Kisah Dari Sudut Yogyakarta

              Saya mengawali semester 7 yang semakin padat ini dengan sebuah kabar gembira, bahwa tim saya bersama Evania Jiady, masuk ke babak final dan menjadi 7 besar dalam sebuah lomba Public Relations tingkat nasional yang diadakan oleh Majalah PR INDONESIA.
            Menyenangkan tentu saja rasanya, meskin bukan kali pertama mengikuti lomba selama saya hidup, tapi ini adalah kompetisi pertama saya dan Eva selama kami kuliah. Dan masuk ke babak final pada kompetisi pertama di zaman kuliah tentu adalah hal yang begitu luar biasa untuk kami.
            Bagi saya dan Eva, masuk babak final bukan hanya tentang gelar juara yang kami kejar. Saya sendiri tidak menampik bahwa itu adalah salah satu tujuan, tapi bagi saya, lebih dari itu, ini tentang menunjukkan bahwa Universitas Pelita Harapan (UPH), tempat kami berkuliah, juga mampu bersaing dengan kampus-kampus lainnya. Masuk babak final bagi saya dan Eva adalah tentang mengulang kembali masa-masa SMA kami yang penuh dengan kompetisi. Berasal dari satu kota yang sama, Makassar, SMA saya dan SMA Eva adalah dua sekolah yang selalu menjadi rival dalam kompetisi apapun. Dan mengingat kami berasal dari dua SMA yang menjadi ‘musuh’ sama lain, menjadi satu tim saat kuliah adalah hal yang hebat, bukan?
            Masih teringat oleh saya, sehari sebelum kami meninggalkan Kota Tangerang untuk bertolak ke Yogyakarta, kota di mana babak final akan dilaksanakan, seorang dosen memberi semua pertanyaan yang membuat saya pribadi merasa sangat tertantang.

“Prove me something. Kecuali menjadi 7 besar sudah cukup bagi kalian.”

Dan sampai detik di mana saya dan Eva dinyatakan menjadi juara 3 dalam kompetisi tersebut, kata-kata dosen tersebut masih terngiang di kepala saya.


“No, Sir. It’s not enough.”

Foto saya dan Eva dengan Piagam Penghargaan Juara 3

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makna Rumah

Together As One